Selain Guaifenesin, Ada 3 Pilihan Obat Batuk Untuk Ibu Hamil!

Ibu hamil dan ibu menyusui seringkali merasa cemas ketika mengalami batuk, apalagi jika disertai gejala seperti pilek atau flu. Batuk yang tidak kunjung sembuh dapat mengganggu keseharian dan memberikan ketidaknyamanan yang luar biasa. Namun, sebelum memilih obat batuk untuk ibu hamil, Ibu harus berhati-hati karena beberapa jenis obat batuk mengandung bahan yang berbahaya bagi janin atau bayi yang sedang disusui.

Oleh karena itu, penting untuk mengetahui jenis obat batuk yang aman dan efektif dikonsumsi oleh ibu hamil dan menyusui. Yuk simak pembahasan Bukubumil kali ini mengenai batuk dan jenis obat batuk untuk ibu hamil dan ibu menyusui yang aman dikonsumsi!*

obat batuk untuk ibu hamil
Konsumsi obat saat hamil

Berbahayakah Bagi Janin Jika Ibu Hamil Batuk?

Menurut seorang profesor di Departemen Obstetri dan Ginekologi di Baylor College of Medicine dan Texas Children’s Hospital, Kjersti Aagaard, kalau hanya batuk saja tidak akan menyakiti janin. Janin terlindung di dalam otot rahim dan dikelilingi oleh cairan ketuban, yang mampu menyangga jika Ibu batuk.

Namun, jika tidak diobati, penyakit yang menyebabkan batuk selama kehamilan berpotensi melukai janin. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), ibu yang sedang hamil lebih mungkin mengalami masalah yang serius dari penyakit seperti COVID-19 dan flu yang menyebabkan batuk. Inilah pentingnya mencari tahu penyebab Ibu mengalami batuk, dan mulai mengobati penyebab yang mendasarinya jika perlu.

Baca juga: Ini 13 Makanan yang Dilarang untuk Ibu Hamil!

Penyebab Batuk Saat Hamil

Selama kehamilan, sistem kekebalan tubuh wanita cenderung melemah, sehingga membuat ibu hamil lebih rentan penyakit. Namun, batuk adalah kondisi umum yang ditemukan saat kehamilan. Menurut suatu penelitian, batuk selama kehamilan pada Ibu bisa jadi disebabkan oleh virus yang menyerang saluran pernapasan. Infeksi saluran pernapasan seperti flu, pilek, bronkitis, pneumonia, asma, dan rinitis alergi dapat menyebabkan batuk. Reaksi alergi biasanya dipicu oleh bahan-bahan tertentu, seperti serbuk sari, debu, atau bulu hewan. Selain itu, asam lambung naik (refluks gastroesofageal) dan asap rokok juga dapat memicu batuk saat hamil.

Normalnya, batuk dapat sembuh sendiri tanpa obat dalam waktu 2-3 minggu. Namun, segera konsultasi ke dokter jika Ibu mengalami salah satu dari gejala berikut:

– sesak napas atau mengalami nyeri dada atau kelelahan yang tidak dapat dijelaskan,

– batuk yang berlangsung lebih dari 3 minggu,

– batuk darah, lendir, atau dahak,

– sulit tidur karena batuk, dan

– memiliki masalah yang tidak dapat dijelaskan seperti penurunan berat badan atau demam, dan

– batuk karena kondisi yang mendasarinya (asma, bronkitis, fibrosis kistik, emfisema, gagal jantung, penggunaan tembakau).

Baca juga: Puasa bagi Ibu Hamil: 4 Tips Tetap Sehat Saat Beribadah

obat batuk untuk ibu hamil
Ilustrasi batuk saat sedang hamil. Sumber foto: https://www.babycentre.co.uk/

Pilihan Obat Batuk untuk Ibu Hamil

Kita tahu bahwa obat penghilang rasa sakit dan obat batuk serta pilek yang biasanya digunakan oleh orang dewasa, nyatanya tidak semua aman untuk ibu hamil. Ketika Ibu konsultasi kepada dokter atau apoteker selaku praktisi, praktisi tentu perlu mempertimbangkan keuntungan/benefit dan risikonya terlebih dahulu untuk menyarankan obat apa yang aman dikonsumsi ibu hamil dan memulai dengan dosis obat terkecil yang efektif. Biasanya, penyakit yang diobati dengan obat-obatan dan produk herbal tidak mengancam nyawa ibu hamil.

Sayangnya, penelitian tentang obat batuk pada ibu hamil masih terbatas terkait informasi kemanjuran dan keamanannya bagi ibu hamil maupun janin. Beberapa penelitian telah berulang kali menunjukkan bahwa obat-obatan umum yang dijual bebas tidak banyak membantu meredakan batuk dengan sendirinya. Namun, jika ingin mencoba mengambil pilihan yang dijual bebas, Bukubumil menyajikan rangkuman informasi tentang beberapa obat pereda nyeri umum dan obat batuk, dan antihistamin yang tersedia di apotek:

Obat pereda nyeri/demam yang menyertai batuk

Jika gejala batuk disertai nyeri, pusing, sakit kepala, atau demam, berikut adalah pilihan obat yang aman untuk dikonsumsi ibu hamil:

  1. Paracetamol (Acetaminophen)

Selama kehamilan, paracetamol atau acetaminophen adalah obat analgesik (pereda nyeri) paling banyak direkomendasikan selama kehamilan. Menurut U.S. Food and Drug Administration (FDA) alias BPOM-nya Amerika Serikat, Acetaminophen termasuk dalam kategori B kehamilan selama tiga trimester, yang berarti tergolong aman sebagai pereda nyeri pilihan untuk ibu hamil. Walaupun belum ada hubungan yang jelas antara acetaminophen dengan terjadinya cacat bawaan pada janin, tapi data klinis yang tersedia terbatas. Meskipun begitu, keamanan acetaminophen yang sudah teruji telah memperkuat penggunaannya sebagai obat pereda nyeri yang direkomendasikan selama kehamilan.

Jika pengobatan tidak efektif, atau penggunaan yang diperlukan lebih dari 10 hari, ibu hamil harus dirujuk ke dokter. Ada kondisi yang mana ibu hamil harus berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai pengobatan sendiri, yaitu:

  • ibu hamil yang mengalami disfungsi ginjal atau hati,
  • kehamilan berisiko tinggi,
  • keluhan sakit kepala pada trimester ketiga (kemungkinan tanda peningkatan tekanan darah dan eklampsia),
  • nyeri > 6 pada skala 1 sampai 10,
  • adanya demam atau tanda-tanda infeksi lainnya, atau
  • nyeri yang berhubungan dengan semua jenis trauma.

2. NSAID

Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) yang tersedia tanpa resep termasuk ibuprofen, naproxen, dan ketoprofen. Menurut FDA, ketiganya termasuk kategori B pada kehamilan trimester pertama dan kedua, dan kategori D pada trimester ketiga. Artinya, masih tergolong aman dikonsumsi saat trimester pertama dan kedua, tapi disarankan untuk menghindarinya pada trimester ketiga. Dibandingkan dengan Acetaminophen, NSAID telah dikaitkan dengan peningkatan risiko gastroschisis, yakni kondisi medis di mana usus bayi keluar melalui celah di dinding perut, pada tingkat yang sedikit lebih tinggi. Umumnya, NSAID tidak boleh digunakan selama kehamilan tanpa persetujuan dari dokter. Konsultasikan kepada apoteker terkait dosis aman yang efektif jika perlu mengonsumsi NSAID.

Baca juga: Donor sperma? Ini Dia 5 Hal Penting untuk Program Hamil

Obat batuk untuk ibu hamil (Ekspektoran/Antitusif)

*) Di bawah ini adalah obat yang bisa dipertimbangkan sebagai obat batuk untuk ibu hamil yang aman dikonsumsi sendiri jika benefit yang didapatkan lebih besar daripada risikonya. Kondisi tiap ibu hamil dapat berbeda satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu obat-obatan di bawah ini tidak bisa dikonsumsi sembarangan. Untuk penggunaannya, Ibu perlu memerhatikan trimester kehamilan, penyakit penyerta yang Ibu derita, dan berkonsultasi pada praktisi profesional untuk mengetahui penilaian benefit dan risiko penggunaan obat-obat ini pada ibu hamil.

Guaifenesin

Guaifenesin termasuk golongan ekspektoran yang bekerja dengan mengencerkan lendir di dada pasien sehingga batuknya lebih produktif. Hal ini akan membantu pasien untuk batuk lebih banyak dan mengeluarkan lendir. Namun, guaifenesin belum terbukti efektif melawan batuk pada pasien dengan gejala flu biasa. Guaifenesin juga dianggap sebagai kategori kehamilan C dan tidak boleh digunakan pada pasien yang menderita batuk kronis akibat asma, merokok, emfisema, bronkitis kronis, gagal jantung, atau penggunaan angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor seperti Captopril, Lisinopril, dan lain-lain.

Kabar baiknya, emfisema, bronkitis kronis, dan gagal jantung relatif jarang terjadi pada wanita usia subur.

Dextrometorfan

Sementara itu, dextromethorphan adalah jenis antitusif yang dapat digunakan jika batuk tidak berdahak dan mengganggu tidur atau sifatnya sangat parah. Namun, seperti guaifenesin, dextromethorphan juga belum terbukti efektif untuk mengatasi batuk akibat flu biasa. Pada ibu hamil, dextromethorphan dikategorikan sebagai obat kategori C, dan tidak terdapat peningkatan risiko cacat lahir pada penggunaan trimester pertama. Namun, penggunaan dextromethorphan bersamaan dengan depresan sistem saraf pusat dan inhibitor monoamine oksidase harus dihindari.

Untuk batuk jenis lain yang tidak boleh diobati sendiri, antara lain:

  • batuk yang durasinya lebih dari tujuh hari,
  • batuk yang berkurang/hilang dan kembali lagi, serta
  • batuk yang disertai gejala infeksi, seperti demam.

Pada tahun 2006, American College of Chest Physicians (ACCP) mengeluarkan pedoman baru yang menangani penanganan batuk yang tepat. Lantaran produk batuk yang tersedia di apotek tidak menghilangkan penyebab yang mendasarinya, ACCP menyarankan ibu hamil tidak menggunakan penekan batuk (antitusif) dan ekspektoran untuk batuk yang diakibatkan oleh postnasal drip.

Postnasal drip atau dript nasal posterior adalah kondisi ketika lendir berlebihan diproduksi di bagian belakang hidung dan tenggorokan, kemudian mengalir ke bawah menuju tenggorokan dan dapat menyebabkan iritasi pada tenggorokan dan batuk. Beberapa penyebab postnasal drip antara lain flu, sinusitis, alergi, infeksi tenggorokan, dan refluks asam.

Untuk batuk postnasal drip, direkomendasikan untuk menggunakan antihistamin atau dekongestan. Mengingat bahwa guaifenesin dan dekstrometorfan memiliki kemanjuran yang dipertanyakan untuk batuk yang berhubungan dengan flu biasa, pengobatan alami untuk batuk terbukti lebih efektif dengan risiko yang lebih kecil pada ibu hamil.

Antihistamin

Jika Ibu batuk disebabkan alergi, usahakan untuk menghindari pemicunya, seperti serbuk sari, debu, atau bulu hewan, tapi tidak terbatas itu saja (tergantung pada penyebab alergi Ibu). Pada tahun 2000, American College of Obstetricians and Gynecologists dan American College of Allergy, Asthma, and Immunology mengeluarkan pernyataan sikap tentang penggunaan obat asma dan alergi, termasuk antihistamin dan dekongestan oral. Chlorpheniramine dan Tripelennamine (PBZ) direkomendasikan sebagai antihistamin pilihan, tapi Tripelennamine sendiri belum tersedia di Indonesia.

Chlorpheniramine, clemastine, diphenhydramine, dan loratadine dianggap sebagai kategori B untuk obat-obatan selama kehamilan oleh FDA. Ketika digunakan pada trimester ketiga, diphenhydramine dosis tinggi memiliki sifat oksitoksik yang dapat menyebabkan kontraksi rahim. Karena kurangnya informasi dan beberapa risiko teoritis, antihistamin harus dihindari pada tahap akhir atau trimester akhir (ketiga) kehamilan.

Dekongestan oral

Pseudoephedrine direkomendasikan sebagai dekongestan oral pilihan, berdasarkan penelitian pada hewan dan manusia dalam prospektif besar mengenai obat selama kehamilan.  Namun, konsumsi Pseudoephedrine dapat menyebabkan gastroschisis dan karena pilihan lain tersedia, lebih bijaksana untuk menghindari penggunaan obat ini selama trimester pertama, kecuali manfaatnya lebih besar daripada risikonya.

Nyatanya, obat batuk yang tersedia di apotek tidak hanya terdiri dari satu macam kandungan, tapi ada campuran penekan batuk dan ekspektoran dengan obat-obatan untuk gejala lainnya. Bisa termasuk antihistamin, dekongestan, dan pereda nyeri. Kombinasi ini bisa menjadi hal yang baik jika Ibu memiliki gejala pilek lain, seperti nyeri tubuh, batuk, dan hidung tersumbat. Kelemahannya adalah Ibu mungkin mendapatkan obat yang tidak dibutuhkan.

Baca juga: 4 Tanda Gangguan Pasca-Trauma Setelah Melahirkan

Cara Alami Mencegah dan Meredakan Batuk Saat Hamil

Penting untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menghindari tertular batuk selama kehamilan dan mengobatinya ketika mengalaminya, dengan menerapkan cara berikut ini:

  • Istirahat yang cukup
    Tidur siang, tidur sepanjang malam, dan duduk untuk bersantai. Ini adalah cara yang bagus untuk memberi Ibu waktu istirahat yang dibutuhkan. Pelajari lebih lanjut tentang pentingnya tirah baring (bed rest) selama kehamilan.
  • Usahakan jangan sampai dehidrasi dengan memperbanyak asupan cairan
    Ibu bisa meminum air, jus, atau kaldu sup untuk menambah cairan yang diperlukan ke dalam tubuh Ibu. Teh atau air hangat dengan lemon dan madu dapat mengurangi gejala batuk dengan alami.
  • Makan yang baik
    Jika batuk Ibu disebabkan oleh asam lambung yang naik, disarankan agar mencoba menghindari makan besar. Sebagai gantinya, Ibu mesti makan beberapa porsi kecil sepanjang hari. Selain itu, hindari untuk berbaring setelah makan. Buah dan sayuran yang mengandung vitamin C, seperti jeruk, stroberi, paprika merah, dan brokoli, dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan mempercepat penyembuhan batuk.
  • Meringankan sakit tenggorokan
    Berkumur dengan air garam hangat untuk meredakan batuk yang disertai dengan sakit tenggorokan.
  • Gunakan tetes saline jika batuk disebabkan post-nasal drip atau hidung tersumbat
obat batuk untuk ibu hamil
Ilustrasi asupan yang dapat membantu meringankan gejala batuk saat hamil. Sumber foto: https://www.whattoexpect.com/pregnancy/pregnancy-health/colds-during-pregnancy/

Baca juga: Kenali 5 Bahaya Asap Rokok Bagi Ibu Hamil dan Calon Buah Hati, Suami juga Perlu Tahu!

Makanan dan Minuman yang Perlu Dihindari Saat Batuk

Saat mengalami batuk, sebaiknya Ibu menghindari makanan yang dapat memperparah iritasi tenggorokan dan merangsang produksi lendir, seperti:

  • Makanan pedas, asam, dan berlemak sebaiknya dihindari karena dapat memperburuk iritasi tenggorokan.
  • Makanan yang mengandung gluten, seperti roti, pasta, dan sereal sebaiknya dihindari karena dapat memperburuk peradangan di saluran pernapasan.
  • Makanan dan minuman yang mengandung gula tinggi, seperti permen, kue, dan minuman bersoda sebaiknya dihindari karena dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan memperparah gejala batuk.
  • Minuman berkafein dan beralkohol sebaiknya dihindari ketika mengalami masalah pernapasan. Kedua jenis minuman ini dapat menyebabkan dehidrasi dan memperparah iritasi tenggorokan.

Perlu diingat bahwa setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan tertentu dan sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi terlebih dahulu sebelum melakukan perubahan besar dalam pola makan atau gaya hidup.

Ketika mengalami batuk selama kehamilan, penting untuk mengambil tindakan yang tepat agar tidak membahayakan kesehatan ibu dan janin yang sedang dikandung. Ada beberapa jenis obat batuk untuk ibu hamil dan dekongestan yang umumnya aman selama kehamilan, tapi sebaiknya selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsinya. Selain itu, ada beberapa cara alami yang dapat membantu meredakan batuk seperti minum banyak air dan mengonsumsi makanan yang kaya akan nutrisi seperti buah-buahan dan sayuran. Selalu perhatikan kondisi kesehatan selama kehamilan dan konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat dan aman bagi Ibu dan janin.

Jika Ibu merasa artikel ini bermanfaat, mari bagikan informasi ini kepada ibu hamil lainnya yang mungkin memerlukan informasi tentang obat batuk untuk ibu hamil. Dengan membagikan artikel ini, Ibu dapat membantu memperluas pengetahuan dan memberikan sumber referensi yang dapat dipercaya bagi ibu hamil yang mengalami batuk. Yuk, mari kita saling berbagi informasi dan membantu meningkatkan kesadaran akan kesehatan Ibu dan janin! Jangan lupa untuk mengunduh aplikasi BukuBumil di Play Store untuk memperoleh informasi seputar kehamilan yang lebih lengkap.

Baca juga: Lawan Sesak Napas saat Hamil: 5 Tips Ini Membantu Ibu Bernapas Lega!

Referensi: