7 Bahaya Obesitas saat Hamil

BukuBumil - 7 Bahaya Obesitas saat Hamil - obesitas saat hamil,diet sehat,kenaikan berat badan

Ibu memang dianjurkan untuk menaikkan berat badan saat hamil untuk memenuhi kebutuhan nutrisi si bayi. Namun, kenaikkan berat badan yang tidak sesuai anjuran dapat menyebabkan obesitas dan menimbulkan komplikasi kesehatan pada Ibu dan janin. Obesitas saat hamil yang tidak ditangani dengan baik dapat berakibat pada kematian Ibu. 

Angka kematian Ibu dan bayi di Indonesia masih tergolong tinggi dan salah satu faktor risikonya adalah obesitas saat hamil. Kondisi obesitas dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang membahayakan kesehatan dan nyawa Ibu serta janin, seperti preeklamsia, cacat lahir, pendarahan, dll. Yuk kita lihat penjelasan lengkapnya dan cara mengatasinya di bawah ini!

Bahaya Obesitas Saat Hamil pada Ibu

Masa – masa kehamilan sangat rentan terhadap berbagai penyakit. Ibu yang mengalami obesitas saat hamil sebaiknya waspada terhadap beberapa komplikasi berikut ini: 

  1. Keguguran

Studi oleh Malasevskaia, dkk (2021) menyebutkan bahwa sekitar 4 dari 10 ibu hamil yang mengalami obesitas berisiko tinggi mengalami keguguran.

  1. Diabetes Gestasional

Kenaikan kadar gula darah yang terjadi pada trimester pertama hingga pertengahan trimester kedua menjadi tanda kemungkinan mengalami diabetes. Selain membahayakan Ibu, diabetes gestasional dapat meningkatkan risiko makrosomia pada bayi. Dampak jangka panjangnya adalah Ibu akan mengalami diabetes gestasional di kehamilan berikutnya dan berisiko tinggi mengidap diabetes tipe 2 seiring bertambahnya usia.

  1. Hipertensi dan Preeklamsia

Hipertensi ialah kondisi tekanan darah terlalu tinggi, yaitu di atas 140/90 mmHg. Penelitian menunjukkan bahwa obesitas saat hamil adalah faktor risiko hipertensi. Bila hipertensi diikuti dengan gejala sakit kepala, pandangan kabur, mual, nyeri ulu hati, atau bengkak di kaki, maka kondisi ini disebut preeklamsia. Preeklamsia biasanya terjadi tepat setelah kehamilan atau pada minggu ke-20 kehamilan.  

  1. Pendarahan Berat Pasca Melahirkan (postpartum hemorrhage)

Saat Ibu melahirkan secara normal atau melalui operasi caesar, pendarahan dan keputihan adalah kondisi yang normal. Darah yang keluar dari vagina setelah melahirkan dikenal sebagai lokia (lochea) atau darah nifas. Ini merupakan cara tubuh membuang darah serta jaringan ekstra di rahim yang membantu janin tumbuh.

Pendarahan pasca melahirkan biasanya akan dialami dalam 24 jam pertama usai melahirkan sampai 6 minggu. Akan tetapi, pendarahan dikatakan abnormal dan membahayakan Ibu apabila dalam rentang waktu tersebut Ibu mengalami:

  • Darah yang keluar lebih dari 500 ml pada persalinan normal atau 1.000 ml pada persalinan sesar
  • Darah yang keluar disertai dengan bekuan darah yang ukurannya lebih besar dari bola golf dan tidak kunjung mereda
  • Tanda infeksi, seperti keluar cairan berbau dari vagina atau luka operasi, menggigil, demam hingga suhu di atas 38℃
  • Ibu mengalami gejala pusing, lemas, jantung berdebar, berkeringat, nyeri perut, demam, gelisah, nyeri saat buang air kecil, dan nyeri panggul

Jika hal di atas terjadi, sebaiknya Ibu segera mencari pertolongan medis untuk mendapat penanganan yang tepat.

Efek Obesitas Saat Hamil pada Bayi

kelainan pada bayi
  1. Cacat Lahir (Birth Defects)

Cacat lahir ialah masalah kesehatan yang ditandai dengan perubahan struktur yang memengaruhi penampilan, fungsi organ, dan perkembangan fisik pada bayi. Sebagian besar cacat lahir diketahui pada tiga bulan pertama kehamilan, yaitu saat organ-organ masih dalam pembentukan. Prediksi jangka waktu hidup bayi yang mengalami cacat lahir tergantung dari bagian tubuh yang terpengaruh dan tingkat keparahannya. Kondisi cacat lahir yang berat memerlukan perawatan medis jangka panjang.  

  1. Makrosomia

Makrosomia adalah bayi baru lahir yang lebih besar dari rata-rata ukuran bayi baru lahir biasanya, yaitu sekitar 4 kg atau lebih. Makrosomia adalah masalah yang timbul karena obesitas saat hamil. Janin menerima nutrisi langsung dari darah Ibu. Ketika Ibu menderita obesitas, pankreas janin menyadari peningkatan kadar glukosa yang tinggi dan akan menghasilkan lebih banyak insulin sehingga tubuh janin mengubah glukosa ekstra tersebut menjadi lemak. Proses ini membuat timbunan lemak dan menyebabkan janin tumbuh terlalu besar.

  1. Kelahiran Prematur

Kelahiran prematur terjadi pada usia kehamilan sebelum 37 minggu. Persalinan sebelum waktunya berisiko tinggi menyebabkan masalah kesehatan yang serius bagi bayi, seperti gangguan pernapasan, gangguan pencernaan, pendarahan otak, atau bahkan kematian. Kelahiran prematur menjadi masalah utama yang menyebabkan gangguan saraf bahkan menjadi penyebab kematian bayi.

Rekomendasi Kenaikan Berat Badan Selama Kehamilan

Kenaikan berat badan selama kehamilan adalah hal yang normal, akan tetapi kenaikan yang berlebihan tidak bagus untuk kesehatan Ibu dan janin. Alangkah baiknya bila Ibu mengetahui dan memantau kenaikan berat badan agar tetap dalam batas wajar. Pertama-tama, ketahui terlebih dahulu indeks massa tubuh (IMT) sebelum hamil. Berikut cara menghitung indeks massa tubuh (IMT): 

Indeks massa tubuh (IMT) = berat badan (kg) tinggi badan (m)²

  • Bila Ibu kelebihan berat badan (overweight), IMT Ibu adalah 25,0 hingga 29,9 sebelum kehamilan
  • Bila Ibu mengalami obesitas, IMT Ibu adalah 30,0 atau lebih tinggi sebelum kehamilan

Berikut adalah penambahan berat badan yang disarankan selama kehamilan:

Berat Badan Sebelum HamilKenaikan Berat Badan yang DirekomendasikanKenaikan Berat Badan yang Direkomendasikan untuk Bayi Kembar
Kurus (IMT di bawah 18.5)13 -18 kg23 – 28 kg
Normal (IMT 18.5-24.9)11 – 16 kg17 -25 kg
Gemuk (IMT 25-29.9)7 – 11 kg14 – 23 kg
Obesitas (BMI 30 atau lebih)5 – 9 kg11 – 19 kg
Sumber: Institute of Medicine and National Research Council

Pemeriksaan Risiko Obesitas

Salah satu pentingnya pemeriksaan rutin selama kehamilan adalah untuk mengetahui kemungkinan Ibu mengalami obesitas. Pemeriksaan yang dilakukan dapat meminimalisir masalah selama kehamilan yang mungkin terjadi karena kelebihan berat badan. Tenaga kesehatan akan melakukan:

  1. Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) 

Tes skrining untuk mengetahui potensi diabetes karena obesitas saat hamil dikenal dengan tes toleransi glukosa oral (TTGO) yang dilakukan antara minggu ke-24 dan 28 kehamilan. Biasanya akan dilakukan dua kali tes untuk memastikan risiko diabetes gestasional. Jika hasil tes pertama menunjukkan kadar gula darah berada di atas 130-140 mgdL, dokter akan menganjurkan untuk melakukan tes skrining lanjutan. Ibu akan didiagnosis menderita diabetes gestasional apabila kedua tes tersebut menunjukkan kadar gula darah tinggi.

  1. Perubahan pada hasil USG janin

USG janin biasanya dilakukan antara minggu ke-18 dan 20 kehamilan untuk meninjau anatomi bayi. Hasil USG memperlihatkan banyak informasi mengenai janin, seperti berat janin, detak jantung janin, ukuran lingkar perut, ukuran lingkar kepala, dll. 

  1. Skrining untuk obstructive sleep apnea (OSA)

Sleep apnea adalah gangguan tidur yang berpotensi menyebabkan pernapasan berhenti berulang kali saat tidur. Ibu yang mengalami apnea selama kehamilan berisiko mengalami preeklamsia atau komplikasi lainnya. Apabila saat pemeriksaan pertama kehamilan Ibu menunjukkan tanda apnea, dokter akan memeriksa lebih lanjut agar bisa dievaluasi dan melakukan pengobatan yang akan diberikan.

Diet Sehat Mengatasi Obesitas Saat Hamil

Diet sehat merupakan aspek penting saat Ibu sedang hamil atau merencanakan kehamilan. Makanan sehat selama kehamilan akan membantu janin tumbuh dan berkembang. Langkah terbaik dan efektif untuk menjauhi risiko komplikasi karena obesitas adalah dengan mengurangi berat badan hingga mencapai angka berat badan yang dianjurkan. 

Ibu tidak perlu melakukan diet khusus, tetapi penting untuk mengonsumsi jenis makanan yang berbeda setiap hari sehingga dapat memenuhi keseimbangan nutrisi. Selain makanan, Ibu bisa mencoba melakukan beberapa tips diet sehat berikut selama kehamilan:

1. Banyak Minum Air Putih
diet sehat untuk obesitas saat hamil

Selain Ibu akan terhidrasi dengan baik, banyak minum air putih juga membuat Ibu merasa lebih kenyang di waktu jeda sebelum jam makan. Ibu hamil sebaiknya minum 10 gelas air putih setiap hari. Minumlah 2 gelas pertama saat bangun pagi, sebelum makan pagi, makan siang, dan makan malam, minum secukupnya saat merasa haus, dan minum sebelum tidur. Bawalah botol minum jika Ibu beraktivitas di luar rumah.

Ibu juga bisa memantau jumlah gelas yang sudah diminum dengan menggunakan aplikasi BukuBumil untuk memenuhi kebutuhan air putih. Di aplikasi BukuBumil, Ibu akan melihat bagian kebutuhan air putih dan menekan tanda (+) setiap kali Ibu sudah minum 1 gelas. Dengan memanfaatkan menu tersebut, dapat membantu mengingatkan Ibu untuk minum air putih sesuai kebutuhan ibu hamil setiap harinya.

2. Mengganti gula dengan pemanis buatan

Aspartam atau stevia merupakan pemanis buatan dapat digunakan sebagai pengganti gula. Pemanis buatan bisa menjadi alternatif untuk mengganti gula dalam makanan dan minuman karena tidak memengaruhi kadar gula darah.

3. Olahraga Ringan

Olahraga ringan selama kehamilan dapat mengurangi berat badan berlebih serta mengurangi rasa nyeri yang muncul selama kehamilan. Olahraga yang aman untuk Ibu hamil adalah berjalan santai, jogging, dan bersepeda statis. Ibu dapat berkonsultasi dengan dokter atau bidan tentang jenis olahraga apa yang dapat bisa lakukan selama kehamilan jika ingin mencoba olahraga lain.

4. Menjaga Kebersihan Makanan Sebelum Dikonsumsi
diet sehat ketika obesitas saat hamil

Selama kehamilan, kebersihan sangat penting untuk menghindari hal-hal buruk dikemudian hari. Hal yang sebaiknya Ibu lakukan, ialah:

  • Mencuci buah dan sayuran untuk menghilangkan kotoran yang dapat membahayakan janin 
  • Cuci tangan dan semua peralatan setelah menyiapkan bahan makanan mentah (daging, telur, ikan, dan sayuran mentah) agar terhindar dari keracunan makanan
  • Pisahkan penyimpanan makanan mentah dari makanan siap saji untuk menghindari kontaminasi dari bahan mentah.
  • Bedakan pisau dan talenan yang digunakan untuk daging mentah dengan buah/sayur/makanan lain
  • Pastikan makanan dimasak dengan matang, seperti telur dan potongan daging
5. Konsumsi Probiotik

Probiotik aman dikonsumsi saat Ibu sedang hamil atau menyusui. Faktanya, mengonsumsi probiotik selama kehamilan dapat meminimalisir komplikasi kehamilan, mengurangi risiko eksim (gangguan pembengkakan pada kulit) pada bayi, dan peningkatan penanda kesehatan metabolisme pada ibu hamil. Probiotik dalam bentuk suplemen memang populer, tetapi Ibu dapat memperoleh probiotik dari makanan fermentasi, seperti yogurt, tempe, acar, dan beberapa jenis keju (keju gouda dan mozarella).

Yuk Bun, terapkan gaya hidup sehat dan jaga berat badan agar terhindar dari obesitas saat hamil. Bagikan artikel ini ke Ibu lainnya, ya Bun!

Referensi