7 Cara Menghadapi Gejolak Emosi Setelah Keguguran

Gejolak Emosi Setelah Keguguran

Depresi, Trauma, dan Stres Setelah Keguguran

Keguguran adalah peristiwa yang mengejutkan dan traumatis bagi wanita beserta keluarga dan menyebabkan periode tekanan emosional yang intens. Meskipun merasakan kesedihan mendalam setelah keguguran adalah hal yang normal, beberapa wanita mengalami perasaan sedih terus menerus dalam waktu yang lama hingga menyebabkan depresi dan gangguan stres pasca trauma (post-traumatic stress disorder/PTSD) .

2 dari 10 wanita yang keguguran mengalami gejala depresi atau kecemasan. Sebagian Ibu yang depresi, gejalanya bertahan hingga 1-3 tahun. Depresi dapat menyebabkan Ibu kehilangan semangat untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Depresi setelah keguguran tidak hanya memengaruhi Ibu, tetapi juga pasangan Ibu. Namun, pria cenderung lebih cepat pulih dari depresi daripada wanita setelah keguguran.

Stres dapat muncul dalam waktu satu bulan setelah keguguran, tetapi terkadang gejalanya muncul hingga bertahun-tahun. Gejala stres menyebabkan masalah yang signifikan dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Ciri-ciri gejala stresnya, antara lain:

  1. Menghindari percakapan tentang peristiwa traumatis tersebut
  2. Mengalami mimpi buruk tentang trauma yang dialami
  3. Pemikiran negatif tentang diri Ibu dan orang lain
  4. Putus asa akan masa depan
  5. Kesulitan menjaga hubungan dengan pasangan
  6. Mudah takut dan selalu merasa dalam bahaya
  7. Kesulitan tidur
  8. Merasa malu dan gagal.

Apa Saja Gejolak Emosi yang Dialami Setelah Keguguran?

Depresi dan stres ditandai dengan munculnya gejolak emosi yang intens. Setiap orang mengalami gejolak emosi yang berbeda-beda setelah mengalami keguguran. Beberapa orang merasa nyaman untuk membicarakan apa yang dirasakan setelah keguguran sedangkan yang lain merasa sedih jika membahas topik tersebut. Ada yang merencanakan kehamilan beberapa minggu setelah keguguran, sedangkan yang lain masih trauma untuk merencanakan kehamilan terutama dalam waktu yang singkat. Oleh karena itu, penting bagi Ibu untuk mengetahui gejolak emosi apa saja yang dapat muncul setelah keguguran. Berikut beberapa emosi tersebut. 

Kesedihan

BukuBumil - 7 Cara Menghadapi Gejolak Emosi Setelah Keguguran - keguguran
Kesedihan

Meskipun Ibu belum sempat bertemu dan memegang bayi Ibu, perasaan sedih bukanlah hal yang berlebihan. Namun, tak penting seberapa lama mengandung bayi tersebut, tidak ada yang bisa melarang Ibu dan pasangan bersedih akibat keguguran. Saat hamil, Ibu biasanya membayangkan masa depan sang anak. Oleh karenanya, Ibu dan pasangan boleh bersedih atas hilangnya bayi beserta harapan dan mimpi yang kalian miliki terhadapnya. 

Shock

Beberapa pasangan akan merasa kaget dengan kejadian yang dialami. Beberapa ibu hamil bahkan tidak mengalami gejala keguguran dan mengetahui nya saat kunjungan rutin kehamilan. Hal tersebut tidak diharapkan seseorang yang merencanakan kehamilan sehingga wajar jika muncul rasa kaget.

Gagal dan Merasa Bersalah

BukuBumil - 7 Cara Menghadapi Gejolak Emosi Setelah Keguguran - keguguran
Gagal dan Merasa Bersalah

Ibu mungkin akan merasa gagal dalam menjaga sang jabang bayi. Anggapan bahwa bayi ada di dalam perut dan berhenti berkembang adalah hal yang sulit untuk dihadapi. Ibu akan merasa bertanggung jawab atas keguguran itu, menanyakan hal apa saja yang dilakukan beberapa minggu sebelum kejadian, dan menduga hal tersebut menyebabkan keguguran.

Perlu diketahui bahwa keguguran sangatlah jarang disebabkan oleh sesuatu yang dilakukan atau tidak dilakukan Ibu, seperti melakukan hal pantangan atau jatuh dari tangga. Penyebab utama dari keguguran dapat dilihat pada artikel  8 fakta tentang keguguran. 

Emptiness (Perasaan Hampa)

Banyak Ibu yang mengatakan bahwa mereka telah berubah setelah hamil karena memiliki identitas baru sebagai orang tua. Jika hal tersebut tiba-tiba gagal, maka Ibu dapat merasakan kehampaan. Pasangan juga kehilangan identitas baru sebagai orang tua.

Kehilangan Kendali

Hal melelahkan menjadi calon orang tua adalah banyak hal yang diluar kendali kita. Ibu tidak bisa mengendalikan perkembangan kehamilan dan itu di luar kendali Ibu apakah bayi nya akan berkembang atau tidak. Yang dapat Ibu lakukan adalah mengikuti saran dari penyedia layanan kesehatan dan mempersiapkan tubuh Ibu sebaik mungkin. Namun, hal itu juga tidak menjamin terhindar dari keguguran dan sangat sulit untuk kita terima.

Takut

Rasa takut dan gelisah akan mengalami keguguran lagi atau komplikasi kehamilan akan membuat Ibu ragu saat merencanakan kehamilan. Kegelisahan tersebut akan semakin parah saat hamil. Oleh karena itu, ceritakanlah perasaan yang dialami saat ini dengan pasangan, sahabat, hingga penyedia layanan kesehatan.

Rasa Cemburu

Ibu mungkin akan merasa iri, kesal, atau tidak bahagia saat orang lain mengumumkan kehamilannya atau kelahiran anaknya. Hal tersebut semakin sulit jika terjadi berdekatan dengan keguguran yang Ibu alami. Jangan terlalu keras dengan diri Ibu, banyak wanita yang merasakan hal yang sama.

Kehilangan Kepercayaan pada Tubuh Ibu

Ibu akan merasakan keanehan antara Ibu dan tubuh sendiri. Bahkan, rasa itu akan muncul di kehamilan berikutnya dan kesal karena tidak bisa menikmati kehamilan tersebut. Perlu diingat bahwa kejadian tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga emosi. Hormon akan dengan cepat berubah setelah keguguran, mood swings seperti menangis adalah hal normal. Meskipun membutuhkan beberapa waktu untuk merasakan tubuh dalam keadaan normal, teruslah menjaga kesehatan fisik dan mental sebaik mungkin.

Bingung

Jika kehamilan Ibu tidak direncanakan, mungkin Ibu akan mengalami konflik emosi. Bisa jadi rasa takut menghadapi keguguran, tetapi juga merasa bersalah karena ada rasa lega melepaskan kehamilan yang tidak direncanakan.

Kesepian

BukuBumil - 7 Cara Menghadapi Gejolak Emosi Setelah Keguguran - keguguran
Kesepian

Beberapa ibu hamil merasa sendirian dalam kesedihan karena tidak ada yang tahu bahwa ia hamil sejak awal. Selain itu, muncul rasa khawatir bahwa kejadian tersebut akan memengaruhi hubungan Ibu dengan pasangan. Oleh karena itu, mulai pertimbangkan untuk berbicara kepada keluarga atau teman terdekat tentang kejadian dan perasaan yang dialami. Hal tersebut mungkin dapat membantu Ibu mengurangi rasa kesepian.

Bagaimana Menghadapi Depresi, Stres, dan Gejolak Emosi Setelah Keguguran?

Banyak perasaaan kaget yang bercampur aduk, seperti trauma, kaget, sedih, merasa bersalah, hingga gelisah terkait kehamilan kedepannya. Laki-laki juga kesulitan menghadapi perasaan kehilangan ini. Hal ini diperparah jika mereka tidak tahu bagaimana membantu pasangannya menghadapi masa sulit ini. Berikut beberapa cara yang dapat dipraktikkan untuk menghadapi keguguran:

  1. Biarkan Diri Ibu untuk Merasa Sedih
BukuBumil - 7 Cara Menghadapi Gejolak Emosi Setelah Keguguran - keguguran
Menghadapi Depresi Setelah Keguguran

Cobalah untuk tidak merasa bersalah karena sedih atau mencoba memaksakan diri untuk bahagia. Setelah mengalami keguguran, beberapa pasangan biasanya mengalami depresi, kecemasan, hingga masalah kesehatan mental, PTSD. Jika Ibu merasa kesulitan menghadapi depresi, trauma, stress atau gangguan emosi, konsultasikan kepada penyedia layanan kesehatan seperti psikolog untuk mendapatkan perawatan terbaik.

  1. Mengenang Kepergian Calon Bayi

Banyak yang melakukan cara khusus untuk mengenang bayi mereka sebagai tanda mereka ikhlas akan kepergian bayinya. Cara tersebut dapat berupa:

  • Menulis tentang pengalaman yang Ibu lalui atau membuat surat untuk bayi Ibu.
  • Menyimpan catatan kesehatan, jurnal kehamilan, dan hasil USG ke dalam kotak khusus.
  • Ingat selalu hari kepergian sang bayi.
  • Tanam pohon atau bunga di rumah.
  • Memberi nama bayi Ibu.

Masih banyak cara lain yang dapat Ibu sesuaikan dengan keyakinan atau budaya sekitar untuk mengenang kepergian sang bayi sebagai salah satu bentuk keikhlasan Ibu akan musibah yang dihadapi.

  1. Ekspresikan Dirimu

Ibu telah melalui pengalaman yang traumatis dan hal itu akan semakin mudah dihadapi jika tahu caranya mengungkapkan perasaan. Ada yang membuat jurnal atau buku harian untuk memahami perasaan mereka, ada juga yang berbicara dengan orang lain tentang perasaan yang ia alami. Jika Ibu merasa kesulitan melakukan hal tersebut, Ibu bisa memanfaatkan layanan konsultasi online, seperti di instagram @_berbagicerita.id dan website yayasan pulih  untuk menceritakan perasaan yang Ibu alami. 

  1. Tidur yang Cukup

Stres, depresi, dan trauma dapat membuat Ibu lelah dan sulit tidur. Jika Ibu merasa kesulitan tidur, lakukan beberapa hal di bawah ini:

  • Atur jadwal tidur yang konsisten, berusaha untuk tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari. 
  • Tetapkan batasan dalam pekerjaan dan kehidupan sosial, tentukan waktu khusus untuk tidur, misalnya jam 9 malam Ibu tidak akan mengecek handphone atau melakukan pekerjaan lainnya.
  • Miliki rutinitas sebelum tidur, misalnya membaca, melakukan peregangan, mengenakan baju tidur, dan menyikat gigi. Rutinitas sebelum tidur yang konsisten memudahkan Ibu untuk tidur nyenyak setiap malam.
  1. Makan Makanan yang Bergizi

Saat menghadapi kesedihan, Ibu mungkin akan kehilangan nafsu makan yang dapat melemahkan daya tahan tubuh dan menyebabkan berbagai jenis penyakit, seperti diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung. Oleh karena itu, penting bagi Ibu untuk mencoba makan yang bergizi agar mengurangi risiko penyakit tersebut. Berikut beberapa tips untuk memiliki pola makan yang sehat:

  • Makan makanan yang mengandung karbohidrat tinggi, seperti nasi, roti, kentang, atau sereal.
  • Makan buah dan sayur
  • Makan lebih banyak ikan sebagai sumber protein dan vitamin
  • Kurangi mengosumsi lemak jenuh dan gula
  • Kurangi konsumsi garam, tidak lebih dari 6 gram per hari
  • Minum air mineral 6-8 gelas tiap hari
  • Jangan melewatkan sarapan
  1. Hindari “Mati Rasa”

Hindari hal-hal yang membuat “mati rasa” kesedihan yang sedang Ibu alami, seperti minum alkohol. Hal tersebut akan memperburuk rasa kesedihan yang terjadi setelah efek nya hilang.

  1. Mencari Support Group

Pada masa sulit ini, Ibu dan pasangan memerlukan dukungan satu sama lain untuk berjuang menghadapi depresi, stres, dan trauma. Selain itu, Ibu dapat mencari komunitas seperti @ourtinyhope_id. Dengan mengikuti komunitas tersebut, Ibu tidak akan merasa sendiri karena juga mendengar cerita orang lain tentang cara mereka menghadapi depresi, stres, dan trauma.

Kapan Waktu yang Tepat Untuk Merencanakan Kehamilan Setelah Keguguran?

BukuBumil - 7 Cara Menghadapi Gejolak Emosi Setelah Keguguran - keguguran
Merencanakan Kehamilan Setelah Keguguran

Setelah keguguran, tak jarang Ibu menanyakan kapan dapat merencanakan kehamilan lagi. Untuk itu, sebaiknya Ibu konsultasi dengan penyedia layanan kesehatan. Secara umum, periode menstruasi pertama terjadi 4-6 minggu setelah keguguran. Ibu dapat merencanakan kehamilan setelah satu siklus menstruasi normal. Namun, terkadang Ibu disarankan untuk menjalani tes medis terlebih dahulu untuk menentukan penyebab keguguran. Selain itu, emosi Ibu mungkin membutuhkan waktu penyembuhan yang lebih lama daripada tubuh. Jadi, saat yang terbaik menentukan kapan Ibu merencanakan kehamilan adalah saat Ibu siap secara fisik dan emosional.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Masih Trauma dengan Peristiwa Keguguran?

Trauma, rasa tak berdaya, dan takut akan mengalami keguguran lagi adalah hal biasa. Faktanya sebagian besar wanita yang mengalami keguguran, memiliki kehamilan yang sehat di waktu berikutnya. Kehamilan yang Ibu alami setelah keguguran mungkin terasa seperti sembilan bulan yang cukup panjang. Meskipun sulit, cobalah untuk tetap berpikir positif dan yakin bahwa Ibu akan memiliki kehamilan normal. Jika Ibu mengalami keguguran berulang, Ibu akan mendapatkan perawatan dan dukungan ekstra dalam kehamilan ini. 

Ibu harus fokus untuk merawat diri sendiri dan mengurangi hal yang dapat menyebabkan Ibu khawatir. Persiapkan tubuh Ibu untuk kehamilan dengan makan yang sehat dan menjaga berat badan. Hindari rokok dan alkohol untuk kebaikan janin dan mulai rutin berolahraga ringan. Jangan ragu untuk konsultasi kepada penyedia layanan kesehatan tentang rencana kehamilan yang akan Ibu lakukan.

Yuk, bagikan artikel ini kepada ibu hamil lainnya!

Referensi: