7 Nilai Etnoparenting yang Bisa Bunda Terapkan, Indonesia Banget Loh!

Ketika menjadi orang tua baru, Bunda dan suami sebagai orang tua pasti memiliki cara dan gaya tersendiri dalam mendidik dan membesarkan anak. Dibutuhkan pengetahuan dan kesiapan dalam membesarkan anak, salah satunya adalah dengan mempelajari dan mengetahui pola asuh seperti apa yang cocok untuk diterapkan saat membesarkan dan mendidik anak.

Penting bagi Bunda mengetahui pola asuh seperti apa yang cocok digunakan dalam membesarkan anak karena erat kaitannya dengan kualitas kesehatan, kecerdasan, dan kepribadian anak.

Etnoparenting

Etnoparenting
Source: unsplash.com Robert Collins

Indonesia merupakan negara yang besar dan kaya akan keberagaman mulai dari agama, bahasa, budaya, etnis, dan sumber alamnya. Berangkat dari keberagaman budaya dan etnis tersebut, lahirlah istilah etnoparenting.

Etnoparenting adalah pola pengasuhan yang dilandaskan pada budaya lokal atau etnis tertentu yang dapat juga disebut sebagai indigenous parenting. Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, Indonesia yang merupakan negara dengan beragam budaya dan multietnis itu berarti setiap daerah memiliki kekhasan tersendiri termasuk dalam hal pengasuhan anak. Dimana pola pengasuhan etnoparenting didasari oleh budaya lokal, tradisi, nilai-nilai masyarakat, filosofi, dan kebiasaan di masing-masing daerah.

7 Unsur Budaya menurut Koentjaraningrat

Pola asuh etnoparenting dibangun berdasarkan sistem nilai yang dipengaruhi 7 (tujuh) unsur budaya. Menurut Koentjaraningrat tujuh unsur budaya yang melatarbelakangi nilai-nilai pola asuh etnoparenting, diantaranya:

Bahasa 

7 unsur budaya menurut Koentjaraningrat yang turut memengaruhi nilai pola asuh etnoparenting yang pertama adalah bahasa. Bahasa merupakan media untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama manusia. Dimana melalui bahasa manusia akan mewarisi tradisi dan budayanya kepada generasi selanjutnya. Sehingga dalam hal pola asuh etnoparenting artinya orang tua akan cenderung mengajarkan dan menanamkan bahasa dan nilai tradisi daerah tempat tinggal orang tua kepada sang anak.

Contohnya, masyarakat sunda akan cenderung menanamkan nilai kesundaan dan terbiasa menggunakan bahasa sunda kepada anaknya, sama halnya seperti daerah lainnya.

Sistem Pengetahuan

Unsur kebudayaan menurut Koentjaraningrat: sistem pengetahuan
Source: unsplash.com Z

Unsur budaya menurut Koentjaraningrat yang kedua adalah sistem pengetahuan. Sistem pengetahuan erat kaitannya dengan sistem teknologi dan peralatan, karena sistem pengetahuan bersifat abstrak dan berwujud dalam bentuk ide manusia.

Oleh karena itu, sistem pengetahuan menjadi unsur budaya yang sangat luas cakupannya, karena mencangkup pengetahuan tentang berbagai unsur dalam kehidupan bermasyarakat. Seperti alam sekitar, binatang yang tinggal di daerah tempat tinggal, jenis tumbuhan yang tumbuh di sekitar daerah tempat tinggal, hingga sifat dan tingkah laku manusia. Sehingga sistem pengetahuan masyarakat terhadap sesuatu akan memengaruhi pola asuh masyarakat di daerah tersebut.

Baca Juga:

7 Pantangan Suami saat Istri Hamil, Masih Percaya?

Harus Tahu! 6 Cara Mudah yang Dapat Kamu Lakukan Untuk Mendukung Orang Tua Baru

Sistem Organisasi Sosial Masyarakat

Unsur budaya menurut Koentjaraningrat yang ketiga adalah organisasi sosial. Menurut Koentjaraningrat setiap kelompok masyarakat diatur oleh adat istiadat dan aturan yang berlaku di masyarakat tersebut. Dimana kelompok masyarakat paling kecil adalah keluarga inti, yang kemudian akan dikelompokan bersama dengan keluarga lain di satu letak geografis yang sama dan membentuk organisasi sosial.

Teknologi dan Peralatan

Unsur budaya menurut Koentjaraningrat selanjutnya adalah sistem teknologi dan peralatan. Yang dimaksud sistem teknologi dan peralatan adalah bentuk upaya masyarakat mempertahankan kehidupannya. Contohnya seperti alat untuk menyalakan api, pakaian, perhiasan, alat transportasi, hingga senjata.

Contohnya seperti masyarakat Baduy dalam yang tidak menggunakan alat elektronik, hal tersebut akan memengaruhi orang tua yang tidak memberikan gadget kepada anaknya pula. Sehingga anak-anak Baduy Dalam tidak terpapar oleh aplikasi atau informasi yang beredar di internet (smartphone).

Sistem Mata Pencaharian

Unsur kebudayaan menurut Koentjaraningrat: sistem mata pencaharian
Source: unsplash.com Abdul Basit

Unsur budaya menurut Koentjaraningrat yang selanjutnya adalah mata pencaharian masyarakat. Hal ini berkaitan dengan bagaimana suatu masyarakat mencukupi kebutuhan hidupnya melalui kegiatan ekonomi, seperti peternak, nelayan, dan petani. Sebab masing-masing mata pencaharian pasti memiliki pola dan nilai masing-masing.

Seperti masyarakat Kasepuhan Ciptagelar yang bermata pencaharian sebagai petani dan memiliki tradisi bahwasannya padi, beras, dan olahan beras tidak boleh diperjualbelikan serta tidak boleh memasak nasi selain memakai hawu. Membuat anak-anak kasepuhan menghargai padi dan beras dan tidak pernah membuang-buang beras yang merupakan makanan pokok masyarakat disana.

Sistem Religi

Unsur budaya menurut Koentjaraningrat selanjutnya adalah sistem religi. Dimana unsur beragama akan mendorong manusia untuk melakukan tindakan-tindakan yang bersifat religius.

Dalam hal etnoparenting, agama akan memengaruhi bagaimana suatu masyarakat bertindak dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari, dan kebiasaan serta nilai tersebut juga akan turut memengaruhi bagaimana orang tua dalam membesarkan anaknya.

Kesenian 

Unsur kebudayaan menurut Koentjaraningrat: Kesenian
Source: Unsplash.com Sifrianus Tokan

Unsur budaya menurut Koentjaraningrat yang terakhir adalah kesenian. Unsur kesenian tertuang pada benda-benda atau artefak yang memuat unsur seni seperti patung, ukiran, dan hiasan. Selain itu unsur kesenian juga terdapat pada seni musik, tari, dan drama dalam suatu masyarakat. Sistem budaya atau seni ini akan memengaruhi nilai dan kebiasaan dalam pola pengasuhan di masyarakat sehingga tercipa model pengasuhan yang khas di daerah tersebut.

Nah, Bunda mungkin sudah bisa menilai, apabila anak dibesarkan dengan pola asuh etnoparenting di tengah gempuran era globalisasi dan kemajuan teknologi yang semakin pesat semakin banyak nilai-nilai luhur yang perlahan luntur di masyarakat. Dan melalui pola asuh etnoparenting diharapkan kita dapat menjadi pribadi yang adaptif terhadap perubahan zaman namun tetap menjunjung tinggi nilai tradisi di Indonesia.

Referensi

Rachmawati, Yeni. (2021). Pengembangan Model Etnoparenting Indonesia pada Pengasuhan Anak.Jurnal Obsesi:Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini. Diakses dari: https://obsesi.or.id/index.php/obsesi/article/view/706/pdf

Zulaihah, S. (2021). Buku Ajar Pengantar Ilmu Antropologi. Diakses dari: http://digilib.uinkhas.ac.id/3005/1/BUKU%20AJAR.pdf

NU Online. (2021). Etno Parenting, Teknik Pola Asuh Anak untuk Hindari Konflik Sejak Dini. Diakses dari: https://www.nu.or.id/nasional/etno-parenting-teknik-pola-asuh-anak-untuk-hindari-konflik-sejak-dini-nvHcj

Related Posts

Comments

Stay Connected

spot_img

Recent Stories