7 Langkah Mencegah Stillbirth atau Bayi Lahir Mati

stillbirth

Ibu pernah melihat atau bahkan mengalami sendiri ada janin yang meninggal ketika masih dalam kandungan? Kehilangan janin karena stillbirth atau lahir mati saat hamil menjadi kenyataan yang menyedihkan untuk dihadapi bagi keluarga yang mengalaminya. Stillbirth atau lahir mati saat hamil adalah kematian atau kehilangan janin di dalam rahim setelah mencapai minggu ke-20 kehamilan. Di Amerika Serikat, lahir mati terjadi pada 1 dari 175 kehamilan setiap tahun. Jika Ibu penasaran, mengapa sih janin bisa meninggal dalam rahim? Apa menyebabnya? Dan, bagaimana cara pencegahannya? Yuk, coba ikuti informasi di bawah ini!

Perbedaan Stillbirth dengan Keguguran

Meskipun sama-sama mengalami kehilangan, keguguran dan lahir mati berbeda berdasarkan waktu kejadian. Di Amerika Serikat, keguguran didefinisikan sebagai kehilangan janin sebelum minggu ke-20 kehamilan, sedangkan pada lahir mati, janin meninggal tepat atau setelah 20 minggu kehamilan. 

stillbirth
Ilustrasi stillbirth

Jenis-jenis Stillbirth

Lahir mati dikelompokkan sesuai periode jumlah minggu kehamilan saat kehilangan janin terjadi, yang terdiri dari early stillbirth, late stillbirth, atau term stillbirth.

Early stillbirth: Janin meninggal antara 20 dan 27 minggu.

Late stillbirth: Janin meninggal antara 28 dan 36 minggu.

Term stillbirth: Janin meninggal pada minggu ke-37 atau setelahnya. 

Baca juga: 9 Tips Atasi Perubahan Kulit Saat Hamil

Penyebab lahir mati pada janin

1 dari 3 kejadian bayi lahir mati, penyebabnya tidak dapat dijelaskan. Meskipun tidak selalu diketahui, tetapi hal-hal yang paling mungkin secara medis dapat menyebabkan lahir mati antara lain: 

1.       Masalah plasenta dan/atau tali pusar

Plasenta adalah organ yang melapisi rahim saat ibu hamil. Dari plasenta dan juga tali pusar, janin mendapatkan aliran darah, oksigen, dan nutrisi untuk mendukung tumbuh kembang janin. Apabila ada masalah terkait plasenta atau tali pusar pada Ibu, janin tidak akan berkembang dengan baik. Misalnya, adanya masalah pada plasenta dapat menyebabkan berkurangnya aliran oksigen sehingga ukuran tubuh janin bisa lebih kecil dari yang seharusnya, bahkan berisiko kematian. 

2.       Preeklamsia

Preeklamsia adalah tekanan darah tinggi yang sering terjadi di akhir kehamilan. Jika menderita preeklamsia, Ibu memiliki risiko dua kali lipat untuk mengalami abrupsi plasenta (lepasnya plasenta dari dinding rahim) atau lahir mati.

3.       Lupus

Seseorang yang menderita lupus berisiko mengalami kelahiran mati.

4.       Gangguan pembekuan

Seseorang dengan kelainan pembekuan darah seperti hemofilia berisiko tinggi mengalami lahir mati. Riwayat pribadi atau keluarga dari kondisi pembekuan darah seperti trombosis, tromboflebitis, atau emboli paru juga berpengaruh. 

5.    Kondisi medis ibu hamil

Misalnya seperti penyakit jantung, penyakit tiroid, atau infeksi virus atau bakteri.

6.      Buruknya gaya hidup

Penggunaan narkoba atau merokok saat kehamilan dapat memperburuk kondisi janin sehingga meningkatkan kemungkinan lahir mati.

7.       Cacat lahir

Kelainan kromosom adalah salah satu ciri janin cacat dalam kandungan yang menyebabkan 20-25% bayi lahir mati. Ada kalanya juga bisa disebabkan oleh genetik, lingkungan, atau penyebab lain yang tidak diketahui. Saat masih dalam kandungan, cacat pada janin dapat dideteksi melalui USG. Beberapa cacat lahir contohnya seperti bibir sumbing atau cacat tabung saraf merupakan cacat struktural yang mudah terlihat. Lainnya, seperti penyakit jantung, mesti menggunakan tes khusus. Cacat lahir jarang ditemukan tanpa pemeriksaan janin secara menyeluruh, termasuk otopsi. 

8.       Infeksi

Infeksi yang terjadi sekitar minggu ke 24 dan minggu ke 27 dapat menyebabkan kematian janin. Bakteri yang menyebabkan infeksi di antaranya termasuk Streptococcus Grup B, E. coli, klebsiella, enterococcus, Haemophilus influenza, klamidia dan mikoplasma atau ureaplasma. Penyakit tambahan yang dapat terjadi antara lain rubella, flu, herpes, penyakit Lyme, dan malaria. Infeksi ini biasanya tidak diketahui oleh Ibu dan mungkin tidak terdiagnosis sampai menyebabkan komplikasi serius.

9.   Trauma kecelakaan

Trauma berupa luka serius akibat kecelakaan mobil dapat menyebabkan bayi lahir mati. 

10.   Kolestasis kehamilan intrahepatik (ICP) 

Juga dikenal sebagai kolestasis obstetrik, yaitu kelainan pada hati yang menyebabkan rasa gatal yang parah.

11.   Pembatasan pertumbuhan intrauterin atau IUGR

Hal ini membuat janin berisiko meninggal karena kekurangan nutrisi

12.   Paparan kimiawi dari lingkungan, seperti pestisida atau karbon monoksida

Baca juga: 7 Jenis Check Up Lengkap Sebelum Program Hamil

stillbirth
Ilustrasi stillbirth

Hal-hal yang bisa menjadi faktor risiko lahir mati

Ada kalanya, kejadian lahir mati tidak diketahui apa penyebab pastinya, sehingga disebut “lahir mati yang tidak dapat dijelaskan”. Misalnya saat usia kandungan semakin matang, semakin meningkat juga kemungkinan terjadinya lahir mati dengan penyebab yang tidak dapat dijelaskan. Untuk mencoba memahami alasan di balik meninggalnya bayi dalam kandungan, otopsi pada bayi dan tes laboratorium lain menjadi suatu langkah yang penting. Lahir mati bisa terjadi pada semua ras, etnis, tingkat pendapatan, dan wanita dari segala usia. Namun, frekuensinya menjadi lebih sering pada wanita yang:

·      Berusia 35 tahun atau lebih,

·       Berada pada status sosial ekonomi rendah,

·       Merokok dan/atau meminum alkohol selama kehamilan,

·       Memiliki kondisi medis tertentu, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dan obesitas,

·       Kehamilan ganda, maksudnya hamil kembar tiga atau kembar empat, dan

·       Pernah mengalami keguguran sebelumnya.

Faktor lain yang juga mendukung perbedaan penyebab lahir mati pada tiap individu ialah perbedaan kesehatan prakonsepsi Ibu, status sosial ekonomi, akses ke perawatan kesehatan yang berkualitas, dan tingkat stres. Sayangnya, belum ada penelitian yang membuktikan kevalidan faktor ini.

Baca juga: 3 Posisi Tidur Nyaman untuk Ibu Hamil 

Gejala lahir mati

Seringkali, kejadian lahir mati tidak dapat diprediksi sebelumnya. Namun, gejala berikut bisa menandakan ada masalah saat kehamilan:

·       Pendarahan vagina, terutama selama paruh kedua kehamilan. Hal ini bisa berarti ada masalah dengan janin Ibu.

·       Kurang gerak atau adanya perubahan tingkat aktivitas normal bayi Ibu.

Jika Ibu mengalami salah satu hal di atas, jangan ragu untuk segera hubungi dokter kandungan.

Bagaimana perawatan untuk bayi lahir mati dan Ibu yang melahirkannya? 

Jika bayi meninggal sebelum lahir, biasanya ada beberapa pilihan untuk melahirkan bayi tersebut. Secara umum, aman bagi Ibu secara medis untuk terus mengandung bayinya sampai persalinan dimulai sekitar 2 minggu setelah bayi meninggal. Sebagian besar bayi lahir mati dapat dilahirkan pervaginam setelah induksi persalinan, kecuali ada alasan khusus untuk persalinan sesar. Operasi caesar biasanya hanya dianjurkan jika komplikasi muncul selama persalinan dan melahirkan. 

Ada praktik umum yang dilakukan sejak 1980-an untuk membantu Ibu menyesuaikan diri dengan kehilangan, di antaranya berupa pengaturan kamar persalinan di rumah sakit yang dijauhkan dari Ibu lain yang memiliki bayi lahir sehat, kemudian melihat bayi untuk terakhir kali, memberi nama kepadanya, dan/atau mengambil foto sebagai kenang-kenangan terakhir jika memungkinkan.

Setelah lahir mati, seperti persalinan lainnya, Ibu bisa mengalami pembengkakan payudara, ketidaknyamanan akibat episiotomi (pembedahan di daerah otot antara vagina dan anus (perineum) saat melahirkan), depresi, dan masalah lainnya.

Rasa bersalah adalah reaksi yang umum dan normal untuk merasakan kesedihan yang mendalam, kemarahan, dan kebingungan. Tak dipungkiri bantuan dari profesional seperti konselor, psikolog, atau psikiater yang berkualifikasi sangat diharapkan dapat mendampingi Ibu dan keluarga melewati masa sulit ini. Pertimbangkan pula untuk bergabung dengan kelompok pendukung di mana Ibu dapat membicarakan perasaan Ibu dengan orang tua lain yang sama-sama menghadapi kematian bayi. 

Cara mencegah dan menurunkan risiko bayi lahir mati

Memprediksi lahir mati saja tidak terbayangkan sebelumnya, oleh karena itu, kejadian ini seringkali tidak bisa dicegah. Ini sering terjadi karena janin tidak berkembang secara normal. Dengan meningkatkan kesehatan Ibu, termasuk pilihan gaya hidup, meningkatkan peluang kehamilan yang sukses. Ada baiknya untuk melakukan ultrasonografi rutin dan/atau pemantauan detak jantung janin untuk mendeteksi kondisi janin terkini. Penting bagi ibu hamil harus memantau pergerakan bayi beberapa kali setiap hari apalagi setelah memasuki kehamilan minggu ke-26. Jika bayi lebih jarang menendang atau bergerak, segera temui dokter atau pergi ke rumah sakit.

Peluang Ibu memiliki bayi sehat lebih baik jika Ibu menjaga kesehatan dengan baik sejak sebelum hamil, serta mendapatkan perawatan prenatal dini dan teratur. Dokter akan memeriksa infeksi, meninjau riwayat medis, dan memastikan Ibu dirawat jika terjadi masalah kesehatan.

Langkah-langkah berikut dapat membantu Ibu memiliki kehamilan yang sehat:

·       Berolahraga, makan dengan baik, dan konsumsi 400-800 mikrogram asam folat setiap hari, dimulai setidaknya 1 hingga 2 bulan sebelum hamil.

·       Hindari alkohol dan merokok.

·       Hanya konsumsi obat yang telah diresepkan oleh dokter. Jangan menghentikan pengobatan apa pun tanpa terlebih dahulu mendiskusikannya dengan dokter ya, Bun!

·       Berkendaralah dengan hati-hati dan kenakan sabuk pengaman.

·       Pasang detektor karbon monoksida di rumah untuk mencegah keracunan karbon monoksida.

·       Hindari keracunan makanan dan infeksi lainnya. Jauhi makanan siap saji seperti makanan fast food. Jika Ibu harus makan makanan ini, pastikan makanan itu sudah dipanaskan secara menyeluruh. 

·       Jangan mengonsumsi keju lunak yang tidak dipasteurisasi, makanan mentah, atau daging yang kurang matang.

Baca juga: 5 Penyebab Terjadinya Prolaps Tali Pusat

lahir mati saat hamil
Ilustrasi penyintas stillbirth atau bayi lahir mati

Cerita Pengalaman Penyintas Stillbirth

Melahirkan bayi yang lahir mati menjadi pengalaman pilu bagi Ibu dan keluarga yang mengalaminya. Bagi sebagian pasangan yang menganggap kehadiran anak adalah penentu keharmonisan rumah tangga, kehilangan anak mungkin dapat menjadi masalah besar dalam pernikahan. Namun, perlu diingat lahir mati jarang terjadi, jika pernah, disebabkan oleh sesuatu yang Ibu lakukan atau tidak lakukan. Artinya, perlu untuk menemukan apa penyebab pastinya, tetapi kadang ada juga kejadian stillbirth yang penyebabnya tidak bisa dijelaskan.

Jika Ibu tahu Irish Bella, seorang aktris Indonesia yang merupakan istri dari Ammar Zoni, ia adalah seorang penyintas stillbirth ketika usia kehamilan anak kembarnya memasuki 25 minggu. Padahal, itu merupakan kelahiran anak pertama dan kedua, yang sedang ditunggu-tunggu. Belakangan diketahui penyebab kematian anak kembar dalam kandungan Irish Bella disebabkan lepasnya plasenta akibat preeklampsia. Menurut dr. Gatot Abdurrazak, SpOG, Dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fetomaternal dari RSAB Harapan Kita, preeklampsia yang dialami Irish disebabkan oleh mirror syndrome dan TTTS (Twin to Twin Transfusion Syndrome), dikutip melalui The Asian Parent.

Tidak ada yang menyangka hal tersebut akan terjadi, bahkan bagi Irish dan Ammar sendiri. Melalui kanal Youtube Daniel Mananta, Irish bercerita bahwa dia sendiri bingung dan bertanya mengapa harus dia yang melalui kejadian seperti ini? Namun, seiring berjalannya waktu, Irish dan Ammar memaknai kehilangan ini sebagai salah satu ujian yang diberikan Tuhan kepada pernikahan mereka dan keputusan Irish untuk berhijrah. Kehilangan bayi kembarnya dalam kandungan membuat Ammar berpikir dan menyadari setiap orang bernyawa pasti akan menemui ajalnya suatu hari nanti. Dari kehilangan bayi kembarnya, Irish dan Ammar menghadapi cobaan ini dengan belajar mengikhlaskan, menjadi pribadi yang lebih baik dalam beribadah, dan lebih mendekatkan diri kepada sang Pencipta.

Teruntuk Ibu yang mungkin sedang atau pernah mengalami pengalaman serupa, ketahuilah bahwa Ibu tidak pernah sendiri. Ada pasangan dan keluarga di sisi Ibu, bahkan juga tenaga profesional yang siap membantu. Kejadian ini mungkin di luar kendali Ibu sebagai manusia. Siapa juga yang berharap akan mengalami kejadian tidak mengenakkan seperti ini? Namun, penting untuk menerima dan mengikhlaskan, bahwa semua yang kita punya di dunia ini hanya titipan. Cepat atau lambat, titipan dalam bentuk apapun itu pasti akan diambil kembali oleh pemiliknya. Dan semua itu adalah kehendak sang Pencipta untuk memutuskan kapan akan mengambil kembali titipannya. Tetap semangat, Bun, karena siapa tahu hal baik lain mungkin menunggu di masa depan! 😊

REFERENSI