8 Fakta Tentang Keguguran

Keguguran adalah kondisi berhentinya kehamilan secara spontan karena embrio atau janin mati sebelum minggu ke-20 kehamilan. Umumnya, terjadi pada awal kehamilan atau trimester pertama. 2 dari 10 kehamilan berakhir akibat keguguran. Selain itu, 1 dari 100 wanita ternyata mengalami keguguran berulang. Ini adalah kejadian yang terjadi sebanyak dua kali berturut-turut. Kejadian tersebut tidak diketahui penyebab pastinya. Oleh karena itu, penting bagi Ibu untuk mengetahui penyebab, gejala, faktor risiko, dan fakta lainnya tentang keguguran.

Gejala Keguguran

Gejala Keguguran

Keguguran biasanya terjadi sebelum minggu ke-12 kehamilan. Berikut tanda dan gejalanya:

  1. Bercak atau berdarah pada vagina. 
  2. Nyeri atau kram di perut atau punggung bagian bawah.
  3. Cairan atau jaringan yang keluar dari vagina. Jika Ibu mengalami tanda ini, letakkan jaringan ke dalam wadah bersih dan bawa ke dokter untuk diperiksa.

Jika Ibu mengalami tanda dan gejala tersebut segera hubungi dokter atau layanan kesehatan untuk memastikan apakah benar mengalami keguguran atau tidak. 

Baca Juga: Yuk, Kenali 3 Penyebab Postpartum Depression

Penyebab Keguguran

Penyebab Keguguran

Saat ini, masih sulit untuk mengetahui pasti penyebab terjadinya, tetapi keguguran hampir tidak pernah disebabkan oleh aktivitas yang dilakukan ibu hamil, seperti seks, olahraga, dan bekerja. Bahkan, cedera ringan, seperti jatuh biasanya tidak menyebabkan keguguran. Berikut beberapa hal yang menjadi penyebabnya, antara lain:

  1. Kelainan pada kromosom

Setengah dari kejadian keguguran disebabkan saat sel telur yang dibuahi (embrio) mendapatkan jumlah kromosom yang salah (bukan 23 pasang kromosom). Contoh masalah kromosom tersebut, meliputi:

  • Blighted ovum, saat embrio berada di rahim, tetapi tidak berkembang menjadi bayi. Kelainan ini ditandai dengan pendarahan berwarna coklat tua dari vagina di awal kehamilan.
  • Kematian janin di dalam rahim, hal ini terjadi karena embrio berhenti berkembang dan mati.
  • Hamil anggur, terjadi ketika tumor berkembang di dalam rahim pada awal kehamilan.
  • Translokasi, hal ini disebabkan oleh kromosom yang berpindah ke kromosom lain. Sebagian kecil keguguran berulang disebabkan oleh translokasi.
  1. Permasalahan pada rahim dan leher rahim

Leher rahim atau serviks adalah lubang menuju rahim yang terletak di bagian atas vagina. Masalah pada rahim dan leher rahim, meliputi:

  • Rahim bersepta, hal ini terjadi karena pita otot atau jaringan membagi rahim menjadi dua bagian. 
  • Sindrom Asherman, kondisi ini ditandai dengan adanya luka atau jaringan parut di dalam rahim yang dapat merusak lapisan rahim (endometrium).
  • Fibroid (pertumbuhan) di dalam rahim atau bekas luka dari operasi pada rahim, hal ini menyebabkan bayi memiliki ruang terbatas dan mengganggu suplai darah bayi.
  • Inkompetensi serviks, kejadian ini disebabkan karena rahim terbuka terlalu dini selama kehamilan dan muncul tanpa rasa sakit atau kontraksi.

Masalah-masalah di atas dapat diatasi jika sebelum merencanakan kehamilan Ibu telah berkonsultasi kepada dokter. 

  1. Infeksi, infeksi menular seksual (IMS) dan listeriosis.

IMS seperti herpes genital dan sifilis disebabkan oleh hubungan seks dengan seseorang yang terinfeksi. Jika Ibu mengalami gejala IMS segera beri tahu dokter untuk dilakukan pengobatan. Listeriosis adalah sejenis keracunan makanan yang dapat diatasi dengan menghubungi penyedia layanan kesehatan terdekat.

Faktor Risiko Keguguran

Faktor Risiko Keguguran

Berikut beberapa fakto yang dapat meningkatkan risiko keguguran:

  1. Usia, wanita yang hamil pada usia lebih dari 35 tahun memiliki risiko keguguran lebih tinggi daripada yang usianya lebih muda.
  2. Keguguran berulang
  3. Kondisi kronis, seperti diabetes yang tidak terkontrol atau ketika kadar gula darah konsisten di atas 180-200 mg/dL.
  4. Merokok, alkohol, dan obat-obatan terlarang.
  5. Kekurangan berat badan atau kelebihan berat badan.
  6. Tes prenatal invasif, seperti pengambilan sampel chorionic villus dan amniosentesis meningkatkan sedikit risiko keguguran.
  7. Terpapar bahan kimia berbahaya, seperti pelarut pada pengencer cat.

Konsultasikan dengan dokter tentang apa yang dapat Ibu lakukan untuk melindungi diri dan bayi Ibu.

Komplikasi

Beberapa Ibu yang keguguran dapat mengalami infeksi di rahim atau disebut dengan keguguran septik. Tanda dan gejala infeksi ini, meliputi:

  1. Demam
  2. Panas dingin
  3. Nyeri perut bagian bawah
  4. Keputihan berbau tidak sedap 

Pencegahan

Pencegahan

Keguguran bukanlah kejadian yang dapat dicegah. Oleh karena itu, Ibu cukup fokus untuk merawat diri sendiri dan calon bayi, dengan cara berikut:

  1. Melakukan perawatan prenatal secara teratur.
  2. Hindari faktor risiko keguguran, seperti merokok, minum alkohol, dan penggunaan obat-obat terlarang.
  3. Minumlah multivitamin setiap hari, konsultasikan kepada dokter tentang vitamin apa saja yang dapat Ibu konsumsi.
  4. Batasi asupan kafein.

Pengobatan

Jika Ibu mengalami keguguran, maka penyedia layanan kesehatan akan memberikan beberapa pengobatan, meliputi:

  1. Dilatase dan kuretase (D&C), prosedur untuk menghilangkan sisa jaringan dari rahim. Penyedia layanan kesehatan akan membuka leher rahim Ibu dan mengangkat jaringan dengan alat pengisap (kuret).
  2. Obat, obat ini dapat membantu keguguran dini berakhir lebih cepat, yaitu misoprostol dan mifepristone. Konsultasikan kepada dokter tentang bagaimana mengonsumsi obat tersebut dan apa saja efek sampingnya.

Hal yang Harus Diketahui Setelah Keguguran

Kapan Waktu yang Tepat untuk Hamil Lagi?

Hal ini dapat Ibu diskusikan dengan pasangan untuk menentukan waktu yang tepat merencanakan kehamilan. Ibu dapat hamil lagi setidaknya setelah satu kali siklus menstruasi. Namun, jika Ibu melakukan beberapa tes medis untuk mencari tahu lebih lanjut tentang penyebab keguguran sebelumnya, mungkin Ibu perlu menunggu hingga tes tersebut selesai.

Butuh Waktu Berapa Lama untuk Pulih ?

Waktu seseorang untuk pulih dari keguguran berbeda-beda, bergantung pada berapa lama Ibu hamil. Ibu mungkin memiliki hormon kehamilan dalam darah selama 1-2 bulan setelah keguguran. Selain itu, sebagian besar wanita mendapatkan menstruasi lagi 4-6 minggu setelah keguguran. 

Secara emosional, mungkin perlu waktu lebih lama untuk pulih. Rasa sedih, marah, bingung, atau sendirian adalah hal yang wajar. Mintalah dukungan teman dan keluarga selama berduka. Jika Ibu masih merasa kesulitan, konsultasikanlah kepada psikolog akan hal ini agar mendapat pertolongan yang tepat.

Yuk, bagikan artikel di atas kepada ibu hamil lainnya!

Referensi:

Related Posts

Comments

Stay Connected

spot_img

Recent Stories