Apakah Bisa Hamil Setelah Aborsi? Berikut 4 Hal yang Harus Diketahui

hamil setelah aborsi
Hamil Setelah Aborsi
Hamil Setelah Aborsi

Beberapa Ibu terpaksa harus melakukan aborsi karena alasan medis, seperti saat terjadi kehamilan di luar rahim ataupun kondisi lain yang membahayakan Ibu dan janin. Oleh karena aborsi adalah pilihan yang memang terpaksa harus dilakukan, banyak Ibu yang pernah melakukan aborsi memutuskan untuk hamil lagi di masa yang akan datang. Namun, banyak juga yang khawatir akan sulitnya hamil setelah aborsi, maka dari itu Ibu perlu mengetahui dampak aborsi pada kehamilan, kemungkinan untuk hamil setelah aborsi, dan waktu yang tepat untuk hamil setelah aborsi. Yuk, simak artikel di bawah ini!

Tipe Aborsi

Tipe Aborsi
Tipe Aborsi

Perlu diketahui bahwa aborsi adalah tindakan menggugurkan kandungan dengan alasan tertentu yang biasanya dilakukan sebelum minggu ke-24 kehamilan. Aborsi dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu:

  1. Aborsi melalui Pil (Aborsi Medis atau Non-Bedah)

Aborsi medis adalah prosedur mengakhiri kehamilan dengan menggunakan obat medis dan tidak memerlukan pembedahan atau anestesi. Prosedur ini dilakukan dengan mengonsumsi dua obat berbeda dalam waktu 48 jam, yaitu obat mifepristone dan misoprostol. Metode ini tidak meningkatkan risiko komplikasi pada kehamilan berikutnya selama dijalankan sesuai prosedur tim pelayanan kesehatan. Untuk instruksi lebih lanjut dapat Ibu konsultasikan kepada dokter. 

Risiko dari aborsi medis, yaitu:

  • Jika aborsinya tidak berjalan lancar, maka harus dilanjutkan dengan metode operasi
  • Jika prosedurnya tidak berhasil, maka Ibu harus mencari alternatif lain untuk menggugurkan kehamilan yang tidak diinginkan
  • Pendarahan banyak dan dalam waktu lama
  • Infeksi
  • Demam
  • Gangguan sistem pencernaan

Prosedur ini tidak dapat Ibu lakukan jika:

  • Sudah memasuki kehamilan usia tua, prosedur ini tidak dapat dilakukan jika Ibu memasuki minggu ke-7 kehamilan
  • Menggunakan alat kontrasepsi intrauterine device  (IUD)
  • Terjadi kehamilan ektopik, yaitu sel telur yang menempel dan berkembang di luar rahim, umumnya di saluran tuba
  • Terdapat beberapa kondisi medis, termasuk gangguan pendarahan, penyakit jantung atau pembuluh darah tertentu, penyakit hati, ginjal, atau paru-paru yang parah
  • Mengonsumsi obat pengencer darah atau steroid
  • Memiliki alergi pada obat medis yang akan digunakan.
  1. Aborsi melalui Operasi

Metode ini dilakukan dengan mengeluarkan janin dari rahim melalui vagina. Biasanya prosedur ini menggunakan vakum pengisap atau kuret dan memerlukan anestesi. Beberapa penyebab melakukan aborsi melalui operasi adalah karena sudah melewati trimester awal atau gagal melakukan aborsi melalui pil.

Terdapat penelitian yang menghubungkan aborsi melalui operasi dengan peningkatan risiko bayi prematur dan berat badan lahir rendah. Ibu yang melakukan aborsi melalui operasi berulang kali menggunakan kuret memiliki risiko luka dalam pada garis rahim atau yang dikenal dengan sindrom Asherman. Kondisi tersebut juga dikaitkan dengan kesulitan hamil di masa yang akan datang.

Prosedur Dilatasi dan Kuretase (D&C)

Dilatasi dan kuretase adalah prosedur operasi kecil untuk memindahkan jaringan dari dalam rahim. Prosedur ini bertujuan untuk mendiagnosis dan mengobati beberapa permasalahan di rahim, seperti pendarahan atau membersihkan rahim setelah keguguran atau aborsi.

Prosedur tersebut dilakukan tanpa rawat inap sehingga Ibu bisa langsung pulang pada hari yang sama. Proses D&C terdiri dari:

  1. Pelebaran, dokter akan membuka dan melebarkan leher rahim
  2. Kuret, dokter menggunakan alat untuk membersihkan dinding rahim dan mengeluarkan jaringan

Berikut beberapa komplikasi yang akan terjadi akibat dilatasi dan kuretase:

  1. Perforasi rahim, hal ini terjadi ketika alat bedah melubangi rahim.  Perforasi rahim biasanya terjadi pada Ibu yang baru hamil atau sudah mengalami menopause
  2. Merusak leher rahim, jika leher rahim robek saat prosedur D&C, maka penyedia layanan kesehatan akan menekan atau memberi obat untuk menghentikan pendarahan atau menutup luka dengan jahitan. Hal tersebut dapat dicegah jika leher rahim dilunakkan dengan obat-obatan
  3. Jaringan parut atau bekas luka pada dinding rahim, dalam kasus yang jarang, D&C akan menimbulkan jaringan parut atau yang dikenal dengan sindrom Asherman yang menyebabkan siklus menstruasi tidak normal dan kemandulan pada kehamilan berikutnya
  4. Infeksi, tetapi kondisi ini jarang terjadi

Dampak Aborsi pada Kehamilan

Hamil Setelah Aborsi
Hamil Setelah Aborsi

Melakukan aborsi tidak selalu berdampak pada kehamilan berikutnya, bahkan belum tentu berdampak pada kehamilan normal di masa depan sehingga Ibu tidak perlu khawatir untuk hamil setelah aborsi. Namun, ada beberapa hal yang harus Ibu ketahui, termasuk adanya kemungkinan kecil aborsi dapat memengaruhi kesuburan dan kehamilan berikutnya jika rahim yang terinfeksi tidak segera ditangani. 

Infeksi akibat aborsi dapat menyebar ke tuba fallopi dan ovarium atau istilah medisnya adalah pelvic inflammatory disease (PID). PID dapat mengakibatkan beberapa komplikasi, seperti:

  1. Kehamilan ektopik, yaitu sel telur yang menempel di luar rahim. PID yang tidak diobati menyebabkan sel telur tidak dapat melewati tuba fallopi untuk menempel pada rahim.
  2. Kemandulan, ketidakmampuan pasangan untuk hamil meskipun telah melakukan hubungan seksual secara intens dalam waktu setidaknya satu tahun
  3. Penyakit radang panggul, yaitu nyeri panggul yang berlangsung dalam waktu lama
  4. Abses tuba-ovarium, PID dapat menyebabkan munculnya gumpalan nanah di saluran reproduksi yang dapat mengancam nyawa.

Tanda dan gejala dari PID biasanya tidak disadari dan beberapa yang sering muncul adalah:

  1. Sakit pada bagian bawah perut dan panggul
  2. Keputihan yang tidak normal
  3. Pendarahan saat atau setelah berhubungan seks
  4. Sakit saat berhubungan seks
  5. Demam menggigil
  6. Sakit saat buang air kecil

Waktu yang Dibutuhkan untuk Hamil Setelah Aborsi

Ibu dapat hamil setelah aborsi ketika waktu ovulasi. Siklus menstruasi akan kembali normal dalam waktu 4-6 minggu setelah melakukan aborsi melalui pil. Bahkan, mungkin bagi Ibu untuk hamil sebelum waktu tersebut. Menstruasi pertama setelah aborsi mungkin akan tidak teratur karena adanya perubahan hormon, tetapi prosedur tersebut tidak berdampak pada kehamilan berikutnya kecuali jika ada komplikasi.

Saat berencana untuk hamil setelah aborsi, Ibu tidak hanya harus siap secara fisik, tetapi juga harus siap secara mental. Melakukan aborsi karena alasan medis tentunya bukan hal yang mudah, Ibu berhak bersedih dan memerlukan waktu untuk memproses hal tersebut. Oleh karena itu, penting bagi Ibu untuk berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan terkait rencana kehamilan yang telah dibuat dan riwayat aborsi yang pernah dilakukan agar dokter dapat memberikan solusi terbaik.

Yuk, bagikan artikel ini kepada calon ibu hamil lainnya!

Referensi: